Selasa, 28 Juni 2011

Adab bertamu


Kehidupan manusia tidak akan lepas dari interaksi antara sesama. Interaksi tersebut akan baik jika disertai dengan saling menghormati dan beradab dengan adab yang mulia. Islam datang sebagai agama yang menyempurnakan seluruh akhlak yang mulia, bukan mengesampingkan apalagi menghilangkannya. Termasuk di dalamnya adab dalam bertamu.

1. Mengucap salam dan meminta izin untuk masuk.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah”, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (An-Nuur: 27-28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda,

“Apabila salah seorang kalian meminta izin masuk tiga kali dan tidak mendapatkan izin masuk maka kembalilah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

2. Tidak boleh mengintip ke dalam rumah.

Mungkin kita sering mendapatkan kaum muslimin tatkala bertamu ia mengucap salam sambil melihat-lihat ke dalam rumah melalui jendela atau mengintip lewat celah-celah rumah. Sebenarnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah mewanti-wanti dan melarang kita dari perkara ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Barangsiapa yang melihat-lihat ke dalam rumah suatu kaum tanpa meminta izin kepada mereka maka sungguh telah halal bagi kaum tersebut untuk mencolok kedua matanya.” (HR. Muslim)

3. Mengetuk pintu dengan pelan.

Upayakan mengetuk pintu dengan pelan atau sesuai kebutuhan, jangan membuat kaget tuan rumah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,

“Dahulu pintu-pintu rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam diketuk dengan ujung kuku.” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad)

4. Tidak berdiri menghadap pintu rumah tatkala pintu terbuka.

Namun hendaknya tamu berada di samping kiri atau kanannya. Karena ditakutkan tanpa sengaja melihat aurat orang yang berada dalam rumah tersebut. Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Dahulu jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam datang menuju pintu rumah suatu kaum (bertamu), beliau tidak menghadap langsung ke arah pintu. Namun, berada di sebelah kanan atau kiri pintu dan berkata, ‘Assalamu alaikum assalamu alaikum’.” (HR. Abu Dawud, Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad)

5. Hendaknya menyebutkan nama tatkala ditanya oleh pemilik rumah.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,

“Aku datang kepada Rasulullah untuk bertanya tentang hutang yang menjadi tanggungan ayahku, maka aku pun mengetuk pintu rumah beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, ‘Siapakah itu?’ Aku menjawab, ‘Ini saya, maka beliau pun bersabda, ‘Saya…saya…’ Seakan beliau membenci jawaban itu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ketidaksukaan beliau shallallahu ‘alaihi wassalam terhadap jawaban ini karena sekedar lafadz ‘saya’ tidak diketahui siapa yang mengatakannya. Sehingga tidak akan berfaedah tatkala seseorang meminta izin masuk.

6. Berupaya untuk berpenampilan sebagus mungkin.

Jika seseorang bertamu, hendaknya ia memperhatikan penampilannya. Agar pemilik rumah tidak merasa keberatan dan risih kepadanya. Hal ini telah diajarkan oleh para pendahulu kita. Dari Abu Jaldah berkata, “Abu Umayyah datang menemui Abul Aliyah dengan memakai pakaian dari wol (jenis pakaian yang kasar). (Melihat hal itu) berkatalah Abu Al Aliyah, “Seorang muslim apabila mereka saling berkunjung mereka saling memperbaiki pakaian mereka.”

Bagusnya pakaian bukan berarti harus baru dan mahal, namun pakaian yang sederhana pun tidak mengapa asalkan baik dan rapi. Baiknya penampilan saat menemui tamu telah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, maka sebaliknya seorang tamu pun dituntut untuk menemui pemilik rumah dengan keadaan yang baik.

7. Tidak membebani pemilik rumah dengan sesuatu yangmemberatkan.

Memuliakan tamu adalah wajib dalam hukum Islam. Pemuliaan dalam bentuk sambutan, tanggapan, penjamuan serta yang lainnya. Sehingga tamu pun harus melihat dan mempertimbangkan waktu bertamu, kesibukan tuan rumah, dan kondisi yang lainnya.

Hal ini apabila diabaikan, akan menyebabkan pemilik rumah merasa berat hati atau bahkan sempit dadanya sehingga akan mengakibatkan perkara-perkara yang tidak baik, dari sisi ketidakridhaan pemilik rumah dan penelantaran hak keluarga.

8. Mendoakan tuan rumah.

Seorang tamu yang mendapatkan perlakuan yang baik dari pemilik rumah, berupa pelayanan, hidangan yang disuguhkan, dan yang lainnya, sudah semestinya ia membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan pula. Kalau tidak mampu maka dengan doa. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Siapa saja yang berbuat baik kepada kalian, balaslah dengan yang setimpal. Apabila kalian tidak memiliki sesuatu yang setimpal maka doakanlah sampai kalian memandang telah membalasnya dengan yang setimpal.” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil)

Demikianlah sebagian adab bertamu, semoga kita dapat melaksanakannya dengan baik, sehingga kita dapat memetik pahala dalam bertamu dengan melakukan adab-adabnya. Wallahu a’lam.

Penulis: Hammam

Referensi: Tafsir Al Qur’anul Adhhm, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Shahih Adabul Mufrad

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 04 vol. 01 1432 H – 2011 M, hal. 41-43 & 66, dengan sedikit perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar