Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

Ketika Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- Menangis..

Salah seorang murid Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “‘Abdurrahman bin Dawud termasuk murid terbaik guru kami dan paling baik akhlaknya. Ia seorang yang dikaruniai iman dan hikmah. Ia pun dicintai masyarakat serta memiliki kedudukan di hati mereka. Ia meninggal dalam suatu kecelakaan dalam perjalanan menuju Madinah, kota Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Semuanya bersedih mendengar berita tersebut. Kami pasrah terhadap ketentuan Allah dan takdir-Nya. Jenazahnya diletakkan setelah shalat Maghrib untuk dishalatkan oleh Syaikh rahimahullah. Kemudian jenazah dibawa ke pekuburan.

Mengejutkan, setelah shalat kami kehilangan Syaikh rahimahullah. Sebagian orang berkata, “Mungkin beliau ikut mengantarkan jenazah.” Yang lain berkata, “Mungkin Syaikh berpuasa, dan sekarang beliau sedang berbuka, dan -seperti kebiasaannya- beliau akan kembali setelah seperempat jam kemudian.”

Adapun sebagian orang melihat Syaikh turun menuju sebuah ruangan di masjid seusai shalat Jenazah. Mereka duduk di seputar kursi tempat Syaikh sambil menunggu beliau untuk mengajar sehari-sehari.

Kemudian salah seorang dari murid beliau yang terkenal -yang tidak melihat Syaikh setelah shalat Jenazah- memasuki ruangan yang dimasuki Syaikh. Ia merasakan keterlambatan Syaikh dan ia hendak menjenguk Syaikh (barangkali ada di ruangan tersebut). Tiba-tiba ia bertemu dengan Syaikh rahimahullah sedang naik dari ruangan tersebut sambil menyeka aiar mata di wajahnya. Nampak jelas di wajah beliau bekas tangisan yang sangat. Sahabat kami tersebut memberi salam kepada Syaikh dan naik kembali. Adapun Syaikh, beliau menahan air matanya dan naik ke tempat beliau mengajar. Beliau duduk di kursinya, sedangkan para jama’ah berada di sekelilingnya. Kemudian beliau mendo’akan saudara kami -’Abdurrahman- agar dirahmati Allah. Beliau pun menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Kemudian beliau menlanjutkan kajiannya, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu apa pun.

Apa yang kami katakan? Beliau sangat teguh dan kuat, dalam keadaan yang lembut penuh keimanan.

Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada ‘Abdurrahman bin Dawud, dan semoga Dia juga merahmati guru kami. Sungguh, sang pengajar telah berjumpa dengan muridnya. Dan kami mengikuti jejak keduanya.

Sumber: Disalin ulang dari buku “Mengapa Anda Sulit Menangis”, Abul Faraj al-Misri & Abu Thariq Ihsan b.Muhammad b.’Ayisy al-‘Utaibi, Pustaka Ibnu Umar, Hal.100-101. Judul asli: Al-bukaa-u min khasyyatillah, asbaabuhuu, wa mawaani’uhuu, wa thuruqu tahshilihii.

Rabu, 29 Juni 2011

Kisah Sebatang Kayu, Amanah yang Nyaris Punah

Kisah Sebatang Kayu, Amanah yang Nyaris Punah


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Tanda-tanda kiamat semakin banyak, semakin dekat. Sementara kebanyakan manusia lalai dari hari yang pasti mereka temui. Kisah ini terjadi di zaman dahulu di kalangan Bani Israil. Diceritakan oleh Rasulullah n kepada umatnya, agar menjadi ibrah bagi mereka yang berakal.

Keutamaan Tauhid

Segala sesuatu yang kita lakukan tidak lepas dari ikatan tauhid. Karena hidup kita di dunia hanya punya satu tujuan luhur, yaitu mengabdi (beribadah) hanya kepada Allah (Tauhidullah). Inilah yang Allah l firmankan:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Minggu, 10 April 2011

kisah laki-laki yang mengolok-ngolok siwak

Kisah Lelaki yang Mengolok-
olok Siwak. SEBAGAIMANA di dalam Al Bidayah
wan Nihaayah karangan Ibnu Katsir,
kejadian-kejadian tahun 665, ketika ia
berkata: Ibnu Kholkaan berkisah menukil
tulisan Asy Syaikh Qathbuddiin Al
Yuunaani dia berkata: Telah sampai kepada kami
bahwasanya seorang laki-laki yang
biasa dipanggil Abu Salamah dari
daerah Bushro, dia itu suka
berkelakar dan berbicara tanpa
dipikirkan terlebih dahulu. Disebutkan di sisinya siwak dan
keutamaan-keutamaannya, maka dia
berkata: “Demi Allah, aku tidak akan bersiwak kecuali di dubur !” Lalu dia mengambil sebuah siwak,
memasukkannya ke duburnya
kemudian mengeluarkannya. Berkata Qathbuddin: Setelah
melakukan perbuatan tersebut, ia
tinggal selama sembilan bulan dalam
keadaan mengeluh sakit perut dan
dubur. Ia (Qathbuddin) berkata: Lalu dia
melahirkan anak seperti tikus
mondok yang pendek dan besar,
memiliki empat kaki, kepalanya
seperti kepala ikan. (Hewan itu
memiliki empat taring yang tampak menonjol, panjang ekornya satu
jengkal empat jari) dan memiliki dubur
seperti dubur kelinci. Tatkala sudah dilahirkan, hewan itu
menjerit tiga kali, lalu bangkitlah anak
perempuan laki-laki itu dan
memecahkan kepalanya sehingga
matilah hewan tersebut. Laki-laki itu hidup setelah melahirkan
selama dua hari dan mati pada hari
yang ketiga. Dan dia (sebelum mati)
berkata: ”Hewan ini telah membunuhku dan memotong-
motong ususku. ” Sungguh kejadian ini telah disaksikan
oleh sekelompok penduduk daerah
tersebut dan para khathib tempat itu.
Di antara mereka ada yang melihat
hewan itu hidup-hidup dan di
antaranya ada yang melihatnya setelah mati. Sumber: Al Qoulul Mufid Penjelasan
Tentang Tauhid karya Asy Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab Al
Wushobiy, diterjemahkan oleh Ummu
Luqman Salma bintu Ngadino As
Salafiyah, terbitan Darul ‘Ilmi hal. 153-154.