Menurut penunjukannya, Isim dapat dibagi dua:
1) ISIM NAKIRAH atau kata benda sebarang atau tak dikenal (tak tentu).
2) ISIM MA'RIFAH atau kata benda dikenal (tertentu).
Isim Nakirah merupakan bentuk asal dari setiap Isim, biasanya ditandai dengan huruf akhirnya yang bertanwin ( ً ٍ ٌ ). Sedangkan Isim Ma'rifah biasanya ditandai dengan huruf Alif-Lam ( ال ) di awalnya.
Contoh Isim Nakirah: بَيْتٌ (= sebuah rumah), وَلَدٌ (= seorang anak)
Contoh Isim Ma'rifah: اَلْبَيْتُ (= rumah itu), اَلْوَلَدُ (= anak itu)
Coba bandingkan dan perhatikan perbedaan makna dan fungsi antara Isim Nakirah dan Isim Ma'rifah dalam dua buah kalimat di bawah ini:
ذَلِكَ بَيْتٌ. اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ.
= Itu sebuah rumah. Rumah itu baru.
جَاءَ وَلَدٌ. اَلْوَلَدُ مُؤَدِّبٌ.
= Datang seorang anak. Anak itu sopan.
Selain Isim yang berawalan Alif-Lam, yang juga termasuk Isim Ma'rifah adalah:
1. ISIM 'ALAM (Nama). Semua Isim 'Alam termasuk Isim Ma'rifah, meskipun diantara Isim 'Alam tersebut ada yang huruf akhirnya bertanwin.
Contoh: أَحْمَدُ (= Ahmad), عَلِيٌّ (= Ali), مَكَّةُ (= Makkah)
2. ISIM DHAMIR (Kata Ganti). Yaitu kata yang mewakili atau menggantikan penyebutan sesuatu atau seseorang atau sekelompok benda/orang.
Contoh: أَنَا (= aku, saya), نَحْنُ (= kami, kita), هُوَ (= ia, dia)
Tampilkan postingan dengan label Bahasa arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa arab. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Juni 2011
NAKIRAH (Sembarang) - MA'RIFAH (Tertentu)نَكِرَة - مَعْرِفَة
Label:
Bahasa arab
Rabu, 01 Juni 2011
MUFRAD (Tunggal) - MUTSANNA (Dual) - JAMAKمُفْرَد - مُثَنَّى - جَمْع
Dari segi bilangannya, bentuk-bentuk Isim dibagi tiga:
1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
2) ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
3) ISIM JAMAK (plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.
Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah ( نِ ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats. Contoh:
Mufrad Tarjamah Mutsanna Tarjamah
رَجُلٌ = seorang laki-laki رَجُلاَنِ = dua orang laki-laki
جَنَّةٌ = sebuah kebun جَنَّتَانِ = dua buah kebun
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمَانِ = dua orang muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَتَانِ = dua orang muslimah
Adapun Isim Jamak, dari segi bentuknya terbagi dua macam:
1. JAMAK SALIM ( جمْع سَالِم ) yang bentuknya beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
اِبْنٌ = seorang putera
بَنُوْنَ
= putera-putera
بِنْتٌ = seorang puteri بَنَاتٌ = puteri-puteri
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمُوْنَ = muslim-muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَاتٌ = muslimah-muslimah
2. JAMAK TAKSIR (جَمْع تَكْسِيْر ) yang bentuknya tidak beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
رَسُوْلٌ
= seorang rasul رُسُلٌ = rasul-rasul
عَالِمٌ = seorang alim عُلَمَاءُ = orang-orang alim
رَجُلٌ = seorang laki-laki رِجَالٌ = para laki-laki
اِمْرَأَةٌ = seorang perempuan نِسَاءٌ = perempuan-perempuan
1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
2) ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
3) ISIM JAMAK (plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.
Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah ( نِ ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats. Contoh:
Mufrad Tarjamah Mutsanna Tarjamah
رَجُلٌ = seorang laki-laki رَجُلاَنِ = dua orang laki-laki
جَنَّةٌ = sebuah kebun جَنَّتَانِ = dua buah kebun
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمَانِ = dua orang muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَتَانِ = dua orang muslimah
Adapun Isim Jamak, dari segi bentuknya terbagi dua macam:
1. JAMAK SALIM ( جمْع سَالِم ) yang bentuknya beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
اِبْنٌ = seorang putera
بَنُوْنَ
= putera-putera
بِنْتٌ = seorang puteri بَنَاتٌ = puteri-puteri
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمُوْنَ = muslim-muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَاتٌ = muslimah-muslimah
2. JAMAK TAKSIR (جَمْع تَكْسِيْر ) yang bentuknya tidak beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
رَسُوْلٌ
= seorang rasul رُسُلٌ = rasul-rasul
عَالِمٌ = seorang alim عُلَمَاءُ = orang-orang alim
رَجُلٌ = seorang laki-laki رِجَالٌ = para laki-laki
اِمْرَأَةٌ = seorang perempuan نِسَاءٌ = perempuan-perempuan
Label:
Bahasa arab
Jumat, 27 Mei 2011
ضَمِيْر DHAMIR (Kata Ganti)
Dhamir atau "kata ganti" ialah Isim yang berfungsi untuk menggantikan atau mewakili penyebutan sesuatu/seseorang maupun sekelompok benda/orang. Dhamir termasuk dalam golongan Isim Ma'rifah.
Contoh:
أَحْمَدُ يَرْحَمُ اْلأَوْلاَدَ = Ahmad menyayangi anak-anak
هُوَ يَرْحَمُهُمْ = Dia menyayangi mereka
Pada contoh di atas, kata أَحْمَدُ diganti dengan هُوَ (=dia), sedangkan الأَوْلاَد (=anak-anak) diganti dengan هُمْ (=mereka).
Kata هُوَ dan هُمْ dinamakan Dhamir atau Kata Ganti.
Menurut fungsinya, ada dua golongan Dhamir yaitu:
1) DHAMIR RAFA' ( ضَمِيْر رَفْع ) yang berfungsi sebagai Subjek.
2) DHAMIR NASHAB ( ضَمِيْر نَصْب ) yang berfungsi sebagai Objek.
Dhamir Rafa' dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, sedangkan Dhamir Nashab tidak dapat berdiri sendiri atau harus terikat dengan kata lain dalam kalimat.
Dalam kalimat: هُوَ يَرْحَمُهُمْ (= Dia menyayangi mereka):
- Kata هُوَ (=dia) adalah Dhamir Rafa', sedangkan:
- Kata هُمْ (=mereka) adalah Dhamir Nashab.
Contoh:
أَحْمَدُ يَرْحَمُ اْلأَوْلاَدَ = Ahmad menyayangi anak-anak
هُوَ يَرْحَمُهُمْ = Dia menyayangi mereka
Pada contoh di atas, kata أَحْمَدُ diganti dengan هُوَ (=dia), sedangkan الأَوْلاَد (=anak-anak) diganti dengan هُمْ (=mereka).
Kata هُوَ dan هُمْ dinamakan Dhamir atau Kata Ganti.
Menurut fungsinya, ada dua golongan Dhamir yaitu:
1) DHAMIR RAFA' ( ضَمِيْر رَفْع ) yang berfungsi sebagai Subjek.
2) DHAMIR NASHAB ( ضَمِيْر نَصْب ) yang berfungsi sebagai Objek.
Dhamir Rafa' dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, sedangkan Dhamir Nashab tidak dapat berdiri sendiri atau harus terikat dengan kata lain dalam kalimat.
Dalam kalimat: هُوَ يَرْحَمُهُمْ (= Dia menyayangi mereka):
- Kata هُوَ (=dia) adalah Dhamir Rafa', sedangkan:
- Kata هُمْ (=mereka) adalah Dhamir Nashab.
Label:
Bahasa arab
اِسْم عَلَمُ ISIM 'ALAM (Kata Benda Nama)
Dalam golongan Isim, ada yang disebut dengan Isim 'Alam yaitu Isim yang merupakan nama dari seseorang atau sesuatu. Di bawah ini beberapa contoh Isim 'Alam (nama), bacalah dengan suara nyaring dan jelas satu persatu:
مُحَمَّد - آدَم - إِدْرِيْس - نُوْح - إِبْرَاهِيْم - إِسْمَاعِيْل - إِسْحَاق - يَعْقُوْب - يُوْسُف - مُوْسَى - سُلَيْمَان - يُوْنُس - عِيْسَى - مَرْيَم - خَدِيْجَة - عَائِشَة - فَاطِمَة - عُمَر - عُثْمَان - جِبْرِيْل - مِيْكَال - لُقْمَان - زَيْد - فِرْعَوْن - قَارُوْن - إِبْلِيْس - عِفْرِيْت - مَكَّة - مَدِيْنَة
مُحَمَّد - آدَم - إِدْرِيْس - نُوْح - إِبْرَاهِيْم - إِسْمَاعِيْل - إِسْحَاق - يَعْقُوْب - يُوْسُف - مُوْسَى - سُلَيْمَان - يُوْنُس - عِيْسَى - مَرْيَم - خَدِيْجَة - عَائِشَة - فَاطِمَة - عُمَر - عُثْمَان - جِبْرِيْل - مِيْكَال - لُقْمَان - زَيْد - فِرْعَوْن - قَارُوْن - إِبْلِيْس - عِفْرِيْت - مَكَّة - مَدِيْنَة
Label:
Bahasa arab
اِسْم إِشَارَة ISIM ISYARAH (Kata Tunjuk)
Untuk lebih memahami penggunaan Mudzakkar dan Muannats, serta Mufrad, Mutsanna dan Jamak dalam pengelompokan Isim, kita akan mempelajari tentang Isim Isyarah atau Kata Tunjuk dan Isim Maushul atau Kata Sambung.
Pertama, Isim Isyarah. Pada dasarnya, ada dua macam Kata Tunjuk:
1) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang dekat: هَذَا (=ini).
Contoh dalam kalimat: هَذَا كِتَابٌ (= ini sebuah buku)
2) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang jauh: ذَلِكَ (=itu).
Contoh dalam kalimat: ذَلِكَ كِتَابٌ (= itu sebuah buku)
Bila Isim Isyarah itu menunjuk kepada Isim Muannats maka:
1) هَذَا menjadi: هَذِهِ (=ini). Contoh: هَذِهِ مَجَلَّةٌ (= ini sebuah majalah)
2) ذَلِكَ menjadi: تِلْكَ (=itu). Contoh: تِلْكَ مَجَلَّةٌ (= itu sebuah majalah)
Adapun bila Isim yang ditunjuk itu adalah Mutsanna (Dual), maka:
1) هَذَا menjadi هَذَانِ. Contoh: هَذَانِ كِتَابَانِ (= ini dua buah buku)
2) هَذِهِ menjadi هَتَانِ. Contoh: هَتَانِ مَجَلَّتَانِ (= ini dua buah majalah)
3) ذَلِكَ menjadi ذَانِكَ. Contoh: ذَانِكَ كِتَابَانِ (= itu dua buah buku)
4) تِلْكَ menjadi تَانِكَ. Contoh: تَانِكَ مَجَلَّتَانِ (= itu dua buah majalah)
Sedangkan bila Isim yang ditunjuk itu adalah Jamak (lebih dari dua):
1) Bila Isim yang ditunjuk itu adalah tidak berakal, maka baik Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats, menggunakan: هَذِهِ (=ini) untuk menunjuk yang dekat dan تِلْكَ (=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh dalam kalimat:
هَذِهِ كُتُبٌ(= ini buku-buku); هَذِهِ مَجَلاَّتٌ (= ini majalah-majalah)
تِلْكَ كُتُبٌ (= itu buku-buku); تِلْكَ مَجَلاَّتٌ (= itu majalah-majalah)
2) Bila Isim yang ditunjuk itu adalah berakal, maka baik Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats, menggunakan: هَؤُلاَءِ (=ini) untuk menunjuk yang dekat dan أُولَئِكَ (=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh dalam kalimat:
هَؤُلاَءِ طُلاَّبٌ (= ini siswa-siswa); هَؤُلاَءِ طَالِبَاتٌ (= ini siswi-siswi)
أُولَئِكَ طُلاَّبٌ (= itu siswa-siswa); أُولَئِكَ طَالِبَاتٌ (= itu siswi-siswi)
Pertama, Isim Isyarah. Pada dasarnya, ada dua macam Kata Tunjuk:
1) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang dekat: هَذَا (=ini).
Contoh dalam kalimat: هَذَا كِتَابٌ (= ini sebuah buku)
2) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang jauh: ذَلِكَ (=itu).
Contoh dalam kalimat: ذَلِكَ كِتَابٌ (= itu sebuah buku)
Bila Isim Isyarah itu menunjuk kepada Isim Muannats maka:
1) هَذَا menjadi: هَذِهِ (=ini). Contoh: هَذِهِ مَجَلَّةٌ (= ini sebuah majalah)
2) ذَلِكَ menjadi: تِلْكَ (=itu). Contoh: تِلْكَ مَجَلَّةٌ (= itu sebuah majalah)
Adapun bila Isim yang ditunjuk itu adalah Mutsanna (Dual), maka:
1) هَذَا menjadi هَذَانِ. Contoh: هَذَانِ كِتَابَانِ (= ini dua buah buku)
2) هَذِهِ menjadi هَتَانِ. Contoh: هَتَانِ مَجَلَّتَانِ (= ini dua buah majalah)
3) ذَلِكَ menjadi ذَانِكَ. Contoh: ذَانِكَ كِتَابَانِ (= itu dua buah buku)
4) تِلْكَ menjadi تَانِكَ. Contoh: تَانِكَ مَجَلَّتَانِ (= itu dua buah majalah)
Sedangkan bila Isim yang ditunjuk itu adalah Jamak (lebih dari dua):
1) Bila Isim yang ditunjuk itu adalah tidak berakal, maka baik Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats, menggunakan: هَذِهِ (=ini) untuk menunjuk yang dekat dan تِلْكَ (=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh dalam kalimat:
هَذِهِ كُتُبٌ(= ini buku-buku); هَذِهِ مَجَلاَّتٌ (= ini majalah-majalah)
تِلْكَ كُتُبٌ (= itu buku-buku); تِلْكَ مَجَلاَّتٌ (= itu majalah-majalah)
2) Bila Isim yang ditunjuk itu adalah berakal, maka baik Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats, menggunakan: هَؤُلاَءِ (=ini) untuk menunjuk yang dekat dan أُولَئِكَ (=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh dalam kalimat:
هَؤُلاَءِ طُلاَّبٌ (= ini siswa-siswa); هَؤُلاَءِ طَالِبَاتٌ (= ini siswi-siswi)
أُولَئِكَ طُلاَّبٌ (= itu siswa-siswa); أُولَئِكَ طَالِبَاتٌ (= itu siswi-siswi)
Label:
Bahasa arab
اِسْم مَوْصُوْل ISIM MAUSHUL (Kata Sambung)
Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata: "yang".
Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:
Kalimat I
جَاءَ الْمُدَرِّسُ
= datang guru itu
Kalimat II اَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = guru itu mengajar Fiqh
Kalimat III جَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ
= datang guru yang mengajar Fiqh
Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushul: الَّذِيْ
Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Muannats maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْهَ
= datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu
Bila Isim Maushul itu digunakan untuk Mutsanna (Dual) maka:
1) الَّذِيْ menjadi: الَّذَانِ sedangkan الَّتِيْ menjadi: الَّتَانِ
جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ
= datang dua orang guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِ الَّتَانِ تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ
= datang dua orang guru (pr) yang mengajar Fiqh
Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Jamak maka:
1) الَّذِيْ menjadi: الَّذِيْنَ sedangkan: الَّتِيْ menjadi: اللاَّتِيْ/اللاَّئِيْ
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ
= datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُ اللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ
= datang guru-guru (pr) yang mengajar Fiqh itu
Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:
Kalimat I
جَاءَ الْمُدَرِّسُ
= datang guru itu
Kalimat II اَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = guru itu mengajar Fiqh
Kalimat III جَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ
= datang guru yang mengajar Fiqh
Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushul: الَّذِيْ
Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Muannats maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْهَ
= datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu
Bila Isim Maushul itu digunakan untuk Mutsanna (Dual) maka:
1) الَّذِيْ menjadi: الَّذَانِ sedangkan الَّتِيْ menjadi: الَّتَانِ
جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ
= datang dua orang guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِ الَّتَانِ تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ
= datang dua orang guru (pr) yang mengajar Fiqh
Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Jamak maka:
1) الَّذِيْ menjadi: الَّذِيْنَ sedangkan: الَّتِيْ menjadi: اللاَّتِيْ/اللاَّئِيْ
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ
= datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُ اللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ
= datang guru-guru (pr) yang mengajar Fiqh itu
Label:
Bahasa arab
Rabu, 18 Mei 2011
Perhatian Kaum Salaf Terhadap Bahasa Arab
Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat penting untuk diperhatikan dan dipelajari oleh seorang muslim, terutama para pengajar dan dai’i. Hal itu karena adanya hubungan yang erat antara bahasa ini dengan syariat Islam.
Dalam lembaran riwayat-riwayat kaum salafush shalih terdapat banyak sekali ungkapan dan keadaan yang menunjukkan perhatian mereka terhadap bahasa Arab. Berikut ini adalah sebagian di antara bentuknya.[1]1.Perintah untuk mempelajarinya.
Dalam atsar dari ‘Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa beliau pernah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari yang isinya :
“Amma ba’du, pelajarilah as-Sunnah dan pelajarilah bahasa Arab, dan i’rob-lah al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an itu dengan bahasa Arab.” (Iqtidho’ush Shirootil Mustaqiim, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, I/470)
Dalam riwayat lain, beliau radhiyallahu ‘anhu berkata :
“Pelajarilah as-Sunnah, faroidh (hukum waris), dan bahasa Arab sebagaimana kalian mempelajari al-Qur’an.” (Kitab al-Madkhol ilas Sunanil Kubro, al-Baihaqi, no. 376, hal. 266-267 dan kitab Miftaahul Jannah, as-Suyuti, no. 213, hal. 105).
Ketika menjelaskan ungkapan tersebut, Imam Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya yaitu “ Belajarlah kalian bahasa Arab dengan I’rob-nya.” (An-Nihaayah fii Ghoriibil Ahaadiits, IV/241)
Sedangkan al-Azhari menjelaskan bahwa makna atsar tersebut adalah : Belajarlah bahasa Arab dalam al-Qur’an dan ketahuilah makna-maknanya. (An-Nihaayah fii Ghoriibil Ahaadiits, IV/241)
Dalam atsar tersebut terdapat ungkapan yang menunjukkan perintah secara jelas untuk mempelajari bahasa Arab.
2. Menjelaskan bahwa bahasa Arab adalah bagian dari agama
‘Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu telah menjelaskan bahwa bahasa Arab adalah termasuk bagian dari agama Islam ini. Oleh karena itu beliau menganjurkan agar mempelajarinya. Beliau berkata :
”Belajarlah kalian bahasa Arab, karena ia adalah termasuk bagian dari agama kalian, dan pelajarilah faroidh (hukum waris), karena ia adalah termasuk bagian dari agama kalian.” (Iqtidho ‘ush Shirootil Mustaqiim, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, I/470)
Setelah membawakan atsar ini, Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Masalah yang diperintahkan oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu Yaitu perintah agar mempelajari bahasa Arab dan mempelajari syariat- telah mencakup perkara yang dibutuhkan, karena agama itu terdiri dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan. Memahami bahasa Arab adalah jalan untuk memahami amalan-amalan beliau.” (Iqtidho’ush Shirootil Mustaqiim, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, I/470).
Dengan demikian, maka bahasa Arab adalah sebuah bahasa yang tidak dapat terlepas dari agama ini.
3. Menghukum anak yang lahn.
Di antara perhatian kaum salaf terhadap bahasa ini adalah bahwa sebagian sahabat memberi peringatan kepada anak-anak yang lahn (kesalahan dalam berbahasa Arab) agar meninggalkan lahn-nya dalam berbahasa Arab.
Di antara riwayat tersebut adalah dari ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah memukul Hasan dan Husain karena lahn. (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, karya al-Khothib al-Baghdadi rahimahullah, no. 1088, II/17).
Diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa mereka pernah memukul anak-anak mereka karena lahn. (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, karya al-Khothib al-Baghdadi rahimahullah, no. 1089, II/17). Atsar tentang memukulnya Ibnu ‘Umar kepada anaknya karena lahn terdapat juga dalam Ghoriibul Hadits, karya Imam al-Khoththobi, I/61; Akhbaarun Nahwiyyin, karya Abdul Wahid bin ‘Umar al-Muqri’, no. 12, hal. 25-26; dan Mu’jamul Udaba’, I/67.
Yang dimaksud lahn adalah kekeliruan dalam bahasa Arab, dahulu awal hijrah para sahabat, banyak di antara anak-anak mereka yang mengalami kekeliruan dalam berbahasa Arab dikarenakan asimilasi dengan bahasa setempat (bahasa asli selain Arab, sebelum datangnya Islam).
4. Membiasakan berbahasa Arab meskipun berada di tempat yang penduduknya tidak berbahasa Arab.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Adapun membiasakan berbicara dengan selain bahasa Arab yang merupakan syiar Islam dan bahasa al-Qur’an sehingga menjadi kebiasaan bagi sebuah daerah dan penduduknya, atau dipakai oleh seseorang yang berada di rumah bersama temannya, atau para pekerja di pasar, para penguasa, para pegawai di diwan, atau ahli fiqih, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu (hukumnya) makruh (dibenci), karena termasuk bertasyabbuh dengan orang-orang ajam dan hukumnya adalah makruh sebagaimana telah (dijelaskan) di muka.”
Oleh karena itu, maka dahulu kaum muslimin yang telah lalu ketika mereka tinggal di Syam dan Mesir sedangkan bahasa yang dipakai oleh penduduknya adalah bahasa Romawi, di Irak dan Khurosan sedangkan bahasa yang digunakan oleh penduduknya adalah bahasa Persia, dan penduduk Maghrib (Maroko) sedangkan bahasa yang dipakai oleh penduduknya adalah bahasa Barbar, mereka- yaitu kaum muslimin yang terdahulu- membiasakan penduduk negeri-negeri ini dengan bahasa Arab, sehingga bahasa ini menguasai semua penduduk negeri tersebut, baik kepada sesama kaum muslimin di antara mereka maupun kepada orang kafirnya.” (Iqtidho’ush Shirootil Mustaqiim, Ibnu Taimiyyah rahimahullah, I/468)
5. Memperhatikan penyusunan kaidah-kaidah bahasa.
Abul Aswad ad-Du-ali mengatakan, “Aku pernah masuk menemui ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, sedangkan beliau aku lihat dalam keadaan menundukkan kepadanya.
Aku berkata, ”Dalam masalah apakah engkau berpikir wahai Amirul Mukminin ?”
Beliau menjawab, ”Sesungguhnya aku mendengar adanya lahn di negerimu ini, maka aku ingin menyusun sebuah kitab yang menjelaskan tentang dasar-dasar bahasa Arab.”
Aku berkata, ”Apabila engkau lakukan hal itu, maka engkau telah menghidupkan kami dan menjadikan bahasa ini tetap ada di antara kita.” Kemudian aku mendatanginya setelah berlalu tiga hari. Lalu beliau memberikan kepadaku sebuah lembaran yang berisi :
”Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Perkataan itu semuanya adalah nama, pekerjaan, dan huruf. Nama (ismu) adalah sesuatu yang memberitakan tentang apa yang diberi nama. Pekerjaan (fi’lu) adalah sesuatu yang memberitakan tentang gerakan apa yang diberi nama. Huruf (harfu) adalah sesuatu yang memberitakan tentang suatu makna yang bukan nama dan bukan pula pekerjaan.”
Beliau berkata, ”Carilah dan tambahilah sesuai apa yang engkau dapatkan. Ketahuilah wahai Abul Aswad, sesungguhnya segala sesuatu itu ada tiga, dhohir (tampak), mudhmar (tidak tampak), dan sesuatu yang tidak dhohir dan tidak mudhmar.”
Abul Aswad berkata, ”Lalu aku mengumpulkan beberapa permasalahan, dan aku memperhatikannya kepada beliau. Di antaranya adalah huruf-huruf nashb, lalu aku menyebutkan di antaranya : dan aku tidak memasukkan .
Beliau berkata : ”Mengapa engkau meninggalkannya ?”
Aku berkata, ”Aku mengira bahwa ia bukan termasuk ke dalamnya.”
Beliau berkata, ”Ia adalah termasuk di dalamnya (huruf nashb), maka masukkanlah ia ke dalamnya.” (Al-Akhbaarul Marwiyyah, karya as-Suyuti, hal. 113, dalam Rosaa-il fil Fiqhi wal Lughoh). Lihat juga al-Fihrisat, hal. 45)
6. Mencela lahn.
Imam asy-Sya’bi rahimahullah mengatakan : “Lahn yang terdapat dalam lisan orang yang mulia dan terhormat itu laksana penyakit cacar yang ada pada wajah.” (Tanbiih Ulil Albab, ha. 121)
Ungkapan ini sesuai dengan untaian bait berikut ini :
Cacat yang ada pada orang yang jahil yang tidak dikenali itu tidak dikenal
Sedangkan aib yang ada pada orang yang mulia dan terkenal itu terkenal juga.
Bekas potongan kuku itu tersembunyi karena kecilnya, akan tetapi apabila ada benda lain yang sama kecilnya tetapi ada di pelupuk mata maka akan terlihat
(Adz-Dzakhirah, karya al-Qorofi, I/50).
Syu’bah juga berkata : ”Barangsiapa yang belajar hadits, akan tetapi dia tidak mengerti bahasa Arab, maka perumpamaan orang itu adalah ibarat orang yang memakai burnus (sejenis mantel yang bertudung kepala) akan tetapi dia tidak memiliki kepala.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi, no. 1080, II/13)
Ini adalah merupakan anjuran bagi para penuntut ilmu syar’i agar bersungguh-sungguh dalam belajar bahasa Arab.
7. Menjelaskan bahwa ilmu tentang tata bahasa Arab (nahwu) selalu dibutuhkan.
Di antara cabang ilmu bahasa Arab adalah tentang tata bahasa (nahwu). Imam asy-Sya’bi telah mengungkapkan tentang pentingnya ilmu alat ini dengan berkata :
”Ilmu nahwu dalam setiap ilmu itu ibarat garam dalam setiap makanan, tidak ada sesuatu yang tidak membutuhkannya.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, karya al-Khothib al-Baghdadi, no. 1087, II/16).
8. Mendahulukan belajar nahwu dari pada hadits.
Waki’ berkata : aku pernah mendatangi al-A’masy untuk mendengarkan dari beliau, lalu aku kadang-kadang lahn, lalu beliau berkata kepadaku, ”Wahai Abu Sufyan, engkau telah meninggalkan perkara yang lebih utama bagimu daripada hadits.”
Aku berkata, ”Wahai Abu Muhammad, apakah yang lebih utama bagiku dari hadits?”
Beliau menjawab, ”Belajar nahwu”, lalu al-A’masy mendiktekan kepadaku nahwu, kemudian mendiktekan hadits kepadku. (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, no. 1078, II/12)
9. Memperingatkan bahwa orang yang berilmu lebih butuh kepada nahwu.
Pada suatu hari Abu ‘Amr mendengar Abu Hanifah menjelaskan tentang masalah fiqih, lalu beliau lahn, maka perkataan beliau membuat Abu ’Amr takjub tetapi Abu ’Amr menganggap jelek lahn-nya. Kemudian ia dibantu dengan kebenaran.” Selanjutnya berkata kepada Abu Hanifah, ”Sesungguhnya engkau lebih membutuhkan untuk memperbaiki lisanmu daripada orang lain.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, no. 1079, II/12)
10. Ber-istighfar ketika lahn
Di antara perhatian mereka terhadap bahasa Arab adalah bahwa mereka mengucapkan istighfar tatkala terjatuh ke dalam lahn.
Al-Hasan bin Abil Hasan pernah terpeleset lisannya dengan terjatuh ke dalam lahn, lalu ia mengatakan, ”Astaghfirulloh.” Kemudian ada orang yang berkata kepadanya tentang hal itu, lalu beliau berkata, ”Barangsiapa yang salah dalam bahasa Arab, maka ia telah berdusta atas nama orang Arab. Barangsiapa yang berdusta maka ia telah melakukan perbuatan yang jelek, sedangkan Alloh Ta’ala telah berfirman :
”Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Alloh, niscaya ia mendapati Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’ : 110) (Mu’jamul Udaba’, I/68)
Ayyub as-Sikhtiyani juga pernah lahn dalam suatu huruf, lalu beliau berkata, ”Astaghfirulloh.” (Ghoriibul Hadits, karya al-Khoththobi, I/61 ; Mu’jamul Udaba’, I/79; Tanbiih Ulil Albaab, hal. 86)
11. Menganggap lahn sebagai perusak hadits.
Abu Mus-hir berkata, “Aku pernah bertanya kepada Sa’id bin Abdul ‘Aziz at-Tanukhi tentang suatu hadits apabila aku dengar dalam keadaan malhuun (pengucapan yang keliru dalam bahasa Arab), lalu ia berkata, ”Lahn itu dapat merusak hadits. Hal itu karena ia mengubah maknanya. Tidaklah seorang ulama ditemui melainkan dalam lisannya lurus (tidak ada lahn). ’Umar bin Abdul ’Aziz adalah salah seorang yang sangat keras dalam menyikapi lahn yang ada pada manusia, baik itu anaknya, teman dekatnya, rakyatnya, dan kadang-kadang menta’dib (memberikan sangsi dengan tujuan memberi pelajaran) mereka disebabkan hal itu.” (Mu’jamul Udaba’, Yaqut al-Hamawi, I/88-89).
12. Mengakhirkan imam yang banyak lahnnya.
Ada orang yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya kami memiliki seorang imam yang lahn,” lalu beliau menjawab, ”Akhirkanlah dia” (jangan jadikan sebagai imam). (Ghoriibul Hadits, karya al-Khoththobi, I/61).
Ini menunjukkan bahwa dalam memilih seorang imam, hendaknya diperhatikan – diantaranya- yaitu tentang kefasihannya dalam membaca ayat-ayat al-Qur’an.
13. Bersenandung dengan syair tatkala ditanya tentang kosakata al-Qur’an.
Dari ‘Ubaidulloh bin ‘Abdulloh, ia berkata, “Aku pernah melihat Ibnu ‘Abbas ditanya tentang kosakata bahasa Arab yang ada dalam al-Qur’an, lalu beliau bersenandung dengan syair. (Ghoriibul Hadits, karya al-Khoththobi, I/61).
Hal itu karena dalam syair-syair kaum Arab yang terdahulu terdapat syawahid (penguat) yang memperkuat makna suatu kata secara benar.
14. Menyesal karena tidak mendalami bahasa Arab.
Atho’ berkata : “Aku senang sekiranya aku mendalami bahasa Arab.” Sedangkan usia beliau saat itu adalah sembilan puluh tahun. (Ghoriibul Hadits, karya al-Khothtobi, I/61).
Inilah sekelumit di antara perhatian kaum salaf terhadap bahasa al-Qur’an ini. Semoga Alloh memberi kita taufiq untuk selalu mempelajari bahasa yang mulia ini dan memudahkan dalam memahami Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh Shallallahu ‘alahi wa sallam.
Sumber: Majalah Adz-Dzakhiirah vol. 9 no. 2 edisi: 68. 1432/2011
Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com
[1] Lihat pembahasan ini dalam I’tidho’ ush Shirootil Mustaqiim, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah I/470; Tanbiihul Albaab bi Fadho-il al-I’rab, karya Abu Bakar asy-Syintirini, hal. 76; al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, karya al-Khothib al-Baghdadi, II/17; Ghoriibul Hadits, karya Imam al-Khoththobi, I/61; Mu’jamul Udaba’, I/67, karya Yaqut al-Hamawi; al-Akhbaarul Marwiyyah fii Sababi Wadh’ al-‘Arobiyyah, karya Suyuti, hal. 161-162, dalam cetakan yang ditahqiq (dikoreksi) dan dimuat dalam Rosaa-il fil Fiqhi wal Lughoh.
Label:
Bahasa arab
Rabu, 11 Mei 2011
Kamus Al Mufid 1.0
Label:
Bahasa arab
Langganan:
Postingan (Atom)
