Sabtu, 14 Mei 2011
Dimana Letak Akal ?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-
Utsaimin rahimahullah ditanya:
Apakah akal itu letaknya ada di
dalam otak atau di dalam Qalbu?
Beliau menjawab :
Alhamdulillah was shalatu was
salam‘ala Rasulillah, amma ba’d:
Allah subhanahu wa ta’ala
mengetahui hal ini. Dialah yang
mengetahui mata-mata yang
berkhianat. Dia juga mengetahui
yang disembunyikan di dalam
dada, yakni qalbu (jantung), karena
qalbu ada di dalam dada. Dan
qalbu adalah tempatnya akal,
pemahaman, dan pengaturan,
sebagaimana Allah berfirman:
ﺃَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺴِﻴﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻬُﻢْ
ﻗُﻠُﻮﺏٌ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ﺑِﻬَﺎ
“Tidakkah mereka berjalan di atas
muka bumi lalu mereka memiliki
qalbu yang memahami ayat Allah
dengannya.” [Q.S. Al-Hajj:46].
Allah subhanahu wa ta’ala juga
berfirman:
ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺗَﻌْﻤَﻰ
ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭﺭِ
“Karena, yang buta bukanlah
mata, tapi yang buta adalah qalbu-
qalbu yang ada di dalam
dada.” [Q.S. Al-Hajj:46]. Maha Suci
Allah, seakan-akan ayat ini turun
menurut keadaan manusia saat ini,
bahkan juga keadaan manusia
dahulu: apakah akal ada di dalam
otak atau di qalbu.
Masalah ini adalah masalah yang
banyak membuat kesulitan para
pemikir yang mendasarkan
analoginya ini pada sesuatu yang
inderawi. Mereka tidak
mengembalikan pemecahan
masalah ini pada firman Allah dan
sabda Rasul-Nya shallallahu‘alaihi
wa sallam. Sebenarnya, hal ini telah
jelas, bahwasanya akal itu ada di
qalbu (jantung) dan qalbu letaknya
ada di dalam dada.
ﺃَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺴِﻴﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻬُﻢْ
ﻗُﻠُﻮﺏٌ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ﺑِﻬَﺎ
“Tidakkah mereka berjalan di atas
muka bumi lalu mereka memiliki
qalbu yang memahami ayat Allah
dengannya.” [Q.S. Al-Hajj:46].
Allah subhanahu wa ta’ala juga
berfirman:
ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺗَﻌْﻤَﻰ
ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭﺭِ
“Karena, yang buta bukanlah
mata, tapi yang buta adalah qalbu-
qalbu yang ada di dalam
dada.” [Q.S. Al-Hajj:46]. Allah tidak
berfirman, “Qalbu yang berada di
dalam otak. Masalah ini jelas sekali
bahwasanya akal berada di dalam
qalbu (jantung). Yang lebih
menguatkan ini adalah sabda Nabi
shallallahu‘alaihi wa sallam yang
artinya, “Dan sesungguhnya di
dalam jasad ini ada sekerat daging.
Jika daging ini baik, maka baiklah
seluruh jasad, jika daging ini rusak,
rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah,
daging ini adalah qalbu.”
Lalu, kenapa engkau menolak
sesuatu yang dipersaksikan oleh
Kitab Allah, padahal Allah adalah
Maha Pencipta dan Maha
Mengetahui segala sesuatu, dan
dipersaksikan pula oleh sunnah
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Yang wajib untuk kita lakukan
dalam hal ini adalah kita buang
seluruh pendapat yang menyelisihi
Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya
shallallahu‘alaihi wa sallam serta
kita jadikan hal itu di bawah kaki
kita, tidak kita pedulikan.
Karena, . Jika otak telah
memproyeksikan suatu gambaran
dan mempersiapkannya, dia
kirimkan ke qalbu, lalu qalbu yang
memerintahkan atau melarang.
Seakan-akan, otak merupakan
sekertaris, mempersiapkan segala
sesuatu lalu memberikannya
kepada qalbu, kemudian dia
memerintahkan atau melarang.
Dan hal ini, bukan merupakan hal
yang aneh.
ﻭَﻓِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺃَﻓَﻠَﺎ ﺗُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ
“Dan di dalam dirimu (terdapat
tanda kekuasaan Allah), tidakkah
kalian melihat?” [Q.S. Adz-
Dzariyat:21].
Di dalam jasad kita ini terdapat
perkara-perkara aneh yang
membuat bingung akal kita ini.
Dan, hal ini karena Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda yang
artinya, “Jika baik daging terssebut,
baik pulalah jasad.” Jika bukan
karena hak memerintah itu milik
qalbu, tidak akan,“Jika daging itu
baik, baik pulalah jasad, jika daging
itu jelek, jelek pulalah jasad
seluruhnya.” Jadi, qalbu merupakan
tempatnya akal dan pengatur bagi
seseorang. Namun, tidak diragukan
bahwa dia memiliki hubungan
dengan otak. Karena itu, jika otak
rusak, pikiran dan akal juga rusak.
Dia memiliki kaitan dengan hal itu,
tapi akal yang mengatur ada di
dalam qalbu, dan qalbu ada di
dalam dada.
ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭﺭِ
“…tapi yang buta adalah qalbu-
qalbu yang ada di dalam
dada.” [Q.S. Al-Hajj:46].
Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Sumber Syarh Riyadhus Shalihin,
jilid 1, Bab Muraqabah.
Diterjemahkan dari http://
www.sahab.net/home/?p=209 oleh
Abu Yusuf Abdurrahman.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar