Al-Madinah Al-Munawwarah (kota
yang disinari) merupakan kota Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Kota ini merupakan kota
pertama yang mendukung dakwah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam sangat mencintai kota ini. Kota yang dulu lebih dikenal ulama
dengan sebutan “Al-Madinah An- Nabawiyah” namun sekarang lebih masyhur dengan sebutan “Al-Madinah Al-Munawwarah ” ini terletak di barat laut Kerajaan Arab Saudi, berjarak 250
km dari timur Laut Merah dan berada
pada ketinggian 620 m dari
permukaan laut. Di sisi baratnya ada
beberapa gunung berapi. Kota ini
merupakan oase yang dikelilingi gunung dan bebatuan dari segala sisi.
Luas kotanya 50 km persegi. Kota Madinah beriklim panas. Allah
berkehendak iklimnya dipengaruhi
oleh Laut Mediterania di utara, dan
cuaca musiman di selatan. Temperatur
berkisar antara 36-45 derajat Celcius
selama musim panas, dan 15-20 derajat Celcius selama musim dingin.
Ada hujan kecil yang biasanya turun
pada bulan Januari dan November. Dalam perjalanan hijrah dari Mekah ke
Madinah, sebelum tiba di Madinah,
Nabi menginap di perkampungan
Quba selama empat hari. Pada hari
pertama di perkampungan Quba, Nabi
membangun masjid. Inilah masjid pertama yang ada di dunia ini. Setelah
membangun masjid, Nabi mengimami
shalat secara berjamaah bersama para
sahabat di Masjid Quba. Dalam riwayat
Tirmidzi, dinyatakan bila mengunjungi
Masjid Quba untuk shalat, pahalanya sama dengan melakukan umrah.
Riwayat tersebut hingga kini masih
tertempel di dinding luar Masjid Quba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam lalu meneruskan perjalanannya ke
Madinah. Sebelum hijrahnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Madinah adalah kumpulan berbagai
kelompok dan suku yang tidak
memiliki ikatan apapun. Setelah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam datang ke Madinah, beliau
menyatukan mereka. Beliau
mempersatukan suku Aus dan
Khazraj dan mempersaudarakan
kaum Muhajirin dan Anshar. Setibanya di Madinah, beliau
melepaskan untanya. Tempat di mana
untanya itu menderum, maka di
situlah beliau mulai membangun
masjid yang tepat berada di tanah Sahl
dan Suhail, kakak beradik yang yatim. Tanah ini dibeli oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wassalam seharga 10 dinar, dengan uang dari Abu Bakar
Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Kemudian beliau membangun masjid
yang kelak menjadi pusat
pemerintahan Islam dan pusat
komando militer. Sejak saat itulah,
masjid Nabawi menjadi simbol dan
pusat kota Madinah. Di Madinah juga terdapat Masjid
Qiblatain (Masjid Dua Kiblat).
Disebutkan oleh sebagian ulama
bahwa nama aslinya adalah Masjid
Bani Salimah. Disebut Dua Kiblat,
karena suatu saat, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan shalat zhuhur di masjid ini,
beliau mendapat wahyu untuk
merubah arah shalat beliau yang
sebelumnya menghadap Baitul Maqdis
di Palestina ke arah Ka ’bah di Mekah. Kita masih bisa melihat arah kiblat
yang lama dan baru di masjid ini.
Allahu a ’lam. Penulis: Ristyandani Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 02 vol. 01 1432 H – 2011 M, hal. 78-79.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar